Pertamina harus segera atasi kelangkaan gas 3kg

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Pertamina harus segera atasi kelangkaan gas 3kg

Anggota Komisi VII DPR RI Muhammad Nasir mempertanyakan keresahan masyarakat di berbagai daerah akibat langkanya gas 3kg. Akibatnya muncul banyak antrian gas dimana-mana dan menimbulkan banyak spekulasi di media.

Hal tersebut mengemuka saat Tim Kunker Komisi VII DPR mengunjungi PT Pertamina Persero RU VI Balongan yang dihadiri Perwakilan Dirjen Migas KESDM RI, Perwakilan SKK Migas, Direksi PT. Pertamina (Persero), GM Pertamina MOR III dan GM PT. Pertamina (Persero) RU VI di Cirebon Jawa Barat, Kamis sore (14/12/2017).

Peristiwa kelangkaan gas 3kg bukan terjadi untuk kali pertama. Oleh karena itu politisi Demokrat ini meminta Pertamina segera meredam kelangkaan gas 3kg dan meninjau ulang regulasi terkait distribusi gas subsidi 3kg supaya lebih terjamin dan merata.

"Saya menemukan sendiri fakta di lapangan ada oknum yang bisa menguasai 15 unit usaha suplai/distributor gas 3kg di wilayah tertentu. Monopoli bisnis semacam ini tidak sehat dan bisa memicu permainan harga, kelangkaan dan sebagainya," sergah Nasir.

Oleh karena itu,  legislator Daerah Pemilihan Kepulauan Riau ini meminta Pertamina untuk memperbaiki regulasi supaya distribusi gas subsidi 3 kg tidak dimonopoli pengusaha tertentu dan menjamin ketersediaan secara konsisten.

Menjawab soal kelangkaan gas 3kg, Ardhi Mokobombang selaku Direksi Pertamina menjelaskan bahwa Pertamina sudah mensuplai gas 3kg di atas kuota subsidi untuk mengatasi isu kelangkaan gas 3kg di masyarakat.

"Masalah biasanya timbul di pengecer karena mereka dibatasi saat membeli ke suplayernya. Sehingga timbul kepanikan sesaat, ditambah cepat viral sehingga masyarakat melakukan pembelian berlebih untuk stok karena khawatir kehabisan gas 3kg," paparnya.

Pihaknya akan terus memastikan ketersediaan gas 3kg dan menghimbau supaya masyarakat tidak panik lalu membeli secara berlebihan.

“Langkah lainnya ke depan perlu didorong penambahan agen dan pangkalan gas sehingga terjadi pemerataan distribusi gas di masyarakat," tutup Ardhi.

Klaim siklus tahunan

Sementara itu, sebelumnya, Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero), Muchamad Iskandar, mengatakan kelangkaan gas tersebut merupakan siklus tahunan yang biasa terjadi di akhir tahun. Dia menegaskan pasokan gas ke pelanggan cukup dan tidak ada penurunan produksi.

Selain itu, kelangkaan terhadap gas 3 kg juga ditengarai oleh penggunaan yang pihak tidak berhak. "Hal ini diperkuat dengan adanya temuan di lapangan bahwa elpiji 3 Kg bersubsidi digunakan oleh pengusaha rumah makan, laundry, genset, dan rumah tangga mampu," ujar Iskandar di kantornya, Jakarta, Jumat (8/12/2017).

Dia mengakui isu penggantian gas elpiji ukuran tabung 3 Kilogram (Kg) alias gas melon menjadi Bright Gas ukuran tabung 3 Kg menjadi salah satu pemicu kelangkaan gas yang saat ini sedang terjadi. Ada kesalahan persepsi pada masyarakat sehingga menimbulkan kepanikan.

"Rencana peluncuran bright gas 3 kg juga jadi pemicu. Jadi hati-hati komunikasi ke masyarakat, jangan sampai ini kesannya mau mengganti 3kg yang subsidi, sehingga menjadi keresahan," kata Iskandar.

Iskandar menjelaskan, masyarakat menjadi panik sebab mengira gas elpiji 3 Kg bersubsidi akan dihapuskan. Oleh sebab itu, mereka berbondong-bondong mengeluarkan tabung gas kosong mereka dan menyimpan stok.

"Nah ini sempat memancing konsumen, masyarakat kita agak sedikit panik. sehingga dia belinya lebih. Jadi stok tabung kosong yang ada di dapurnya dikeluarin semua bagaimana supaya dapat. Sehingga masyarakat yang betul-betul butuh pun jadi sulit," katanya.

 

Mendorong kapabilitas tenaga kerja
Samsung luncurkan ponsel terbaru
Cara mengunjungi laboratorium Kebinekaan Bahasa dan Sastra
Klaim keberhasilan pembangunan di perbatasan
Jangan biarkan pulau dimiliki asing
Fetching news ...