Daya beli masyarakat turun atau mereka mulai cerdas dalam berbelanja?

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Daya beli masyarakat turun atau mereka mulai cerdas dalam berbelanja? "Purchasing power is a license to purchase power." - Raoul Vaneigem

Dalam beberapa pekan ini muncul opini mengenai daya beli masyarakat turun yang menyebabkan asumsi di masyarakat anomali terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Terlepas adanya perlambatan dinamika konsumsi di kalangan kelas bawah, dapat disimpulkan perekonomian dan perindustrian berjalan seperti biasanya.

Siklus ekonomi yang terjadi saat ini dinilai sejumlah pengamat merupakan hal yang normal, dan secara makro kondisi perekonomian Indonesia tetap baik. Perlambatan pertumbuhan dayabeli perkuartal tahun 2017 sebenarnya meningkat, tapi jika dibandingkan dengan tahun 2016 memang terjadi penurunan dalam presentase yang kecil dan masih dalam taraf aman. 

Faktor perlambatan pertumbuhan dayabeli ini dipengaruhi oleh beberapa hal salah satunya adalah perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin cerdas dan efisien. Beberapa asumsi faktor tersebut antara lain terjadinya peralihan metodebelanja masyarakat (misalnya dari belanja di toko melalui e-commerce), masyarakat yang lebih cermat menabung, dan peralihan industri dari padat karya menjadi padat modal.

Hal diatas mengemuka dalam Diskusi Media yang diadakan oleh Forum Merdeka Barat  9 (FMB 9) yang dimotori oleh Kementerian Kominfo yang bertema "Daya Beli Terjaga, Masyarakat Belanja Lebih Cerdas" pada hari Sabtu, 12 Agustus  2017 di kantor  Kemkominfo, Jakarta Pusat. 

Dalam acara ini tampil empat narsumber Kepala Badan Pusat Satistik (BPS) Suhariyanto, Faisal Basri (pengamat  ekonomi dari Universitas Indonesia), Hendri Saparini (Direktur Eksekutif CORE Indonesia), serta Ketua Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), Aulia E. Marinto

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menegaskan daya beli masyarakat masih kuat. Ini terbukti dari kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) yang masih dominan. Menurutnya, konsumsi masyarakat masih tumbuh kuat. Semua komponen tidak ada yang negatif. 

Ia mengemukakan berdasarkan laju pertumbuhan PDB menurut pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga tercatat tumbuh signifikan pada triwulan kedua 2017, yaitu 4,95 persen (year-on-year). Jika dibanding triwulan pertama yang 4,94 persen sekarang ini lebih tinggi sedikit.

Suhariyanto menyebut konsumsi rumah tangga menyumbang 2,65 persen terhadap pertumbuhan ekonomi di triwulan kedua 2017, yang tercatat 5,01 persen. Kategori restoran dan hotel tumbuh 5,87 persen sedangkan makanan dan minuman 5,24 persen.  

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan Kedua 

Selanjutnya, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) juga tercatat menguat, yaitu 5,35 persen (year-on-year) pada triwulan kedua 2017. Suhariyanto mengatakan pertumbuhan itu didorong oleh investasi bangunan, kendaraan, dan peralatan lain. 

Realisasi belanja pemerintah untuk belanja modal juga tercatat meningkat dibandingkan dengan triwulan kedua tahun lalu. Belanja modal pemerintah yang cukup bagus ini akan memberikan sinyal positif kepada swasta. 

Pergeseran Pola Konsumsi

Telah terjadi pergeseran model gelontoran belanja masyarakat dari transaksi konvensional ke non konvensional atau online. Namun, BPS menegaskan, bahwa pergeseran konsumsi hanya terjadi di kalangan masyarakat menengah ke atas.

Selain pergeseran tersebut, BPS memandang kalangan menengah ke atas saat ini masih menahan konsumsinya karena mempertimbangkan berbagai aspek. Meskipun transaksi debit mengalami pertumbuhan, namun total dana pihak ketiga di perbankan saat ini cukup tinggi.

Secara garis besar, konsumsi rumah tangga yang memiliki kontribusi sebesar 55,61 persen terhadap produk domestik bruto, berhasil tumbuh 4,95 persen terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal kedua. Meski demikian, pertumbuhan konsumsi  rumah tangga jika dibandingkan kuartal ke kuartal hanya tumbuh 1,32 persen (q-to-q).

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri mengatakan, tidak ada kejadian luar biasa yang menyebabkan daya beli masyarakat secara keseluruhan tiba-tiba merosot.

Ia mengatakan, memang benar kenaikan konsumsi masyarakat sedikit melambat menjadi di bawah 5 persen atau persisnya 4,93 persen pada kuartal I 2017, tetapi jauh dari merosot atau turun sebagaimana banyak diberitakan belakangan ini.

Menurut Faisal dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan riil konsumsi masyarakat (private consumption) mencapai rata-rata 5 persen. Pertumbuhan nominal konsumsi masyarakat pada triwulan I-2017 masih 8,6 persen. 

Jadi, baik secara nominal maupun riil, konsumsi masyarakat masih naik. Memang benar kenaikan konsumsi masyarakat sedikit melambat menjadi di bawah 5 persen atau persisnya 4,93 persen pada triwulan I-2017, tetapi jauh dari merosot atau turun sebagaimana banyak diberitakan belakangan ini. 

“Rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) terbaru oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada 7 Agustus 2017 lalu  dipastikan memperkuat kesimpulan tidak terjadi kemerosotan daya beli atau konsumsi masyarakat,” katanya.

Data resmi BPS menyimpulkan secara keseluruhan konsumsi masyarakat secara riil (sudah memperhitungkan kenaikan harga) naik cukup stabil di aras sekitar 5 persen.

 

Pansus angket DPR tidak benci KPK
Cara mudah memiliki kualitas tidur yang baik
32 jamaah haji wafat karena sakit jantung, Pemerintah RI harus lakukan ini
Berjuanglah sampai titik darah penghabisan!
Beranikah KPK hadir di sidang Hak Angket?
Fetching news ...