Ketika orang tua berbeda agama

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Ketika orang tua berbeda agama

Pernikahan beda agama secara legal-formal tidak diperkenankan di Indonesia. Aturan ini sempat digugat, akan tetapi Mahkamah Konstitusi (MK) pada 2015 tetap memutuskan menolak, alias masih mengacu kepada UU No. 1 Tahun 74 Pasal 2 Ayat 1.

Argumentasi hakim adalah bahwa pernikahan beda agama tidak saja menyangkut persoalan administratif kenegaraan, tetapi juga berkaitan dengan persoalan spiritual dan sosial. Oleh karena itu, pernikahan tersebut harus dilakukan sesuai dengan tuntunan dan pedoman agama-agama yang dianut oleh warganegara.

Namun, fakta di lapangan berkata lain. Sejumlah pasangan menyiasatinya dengan cara menikah dengan tata cara agama tertentu. Akan tetapi, usai urusan administrasi tersebut, masing-masing kembali kepada agamanya masing-masing.

Cara kedua adalah, bagi yang memiliki uang, secara sipil di luar negeri. Setelah itu, akta nikah sipil dari luar negeri itu dicatatkan kembali berdasarkan catatan sipil di dalam negeri. Saya tidak ingin masuk ke dalam polemik keabsahan pernikahan seperti ini, tetapi lebih kepada kondisi anak-anak mereka.

Saya sempat menemui seorang penghulu swasta pernikahan beda agama, yang telah menikahkan sekitar 800 orang dalam kurun 11 tahun. Dia tak menampik jika pernikahan beda agama memiliki risiko perceraian yang tinggi, meskipun dia tidak mengetahui persis berapa persentasenya. Pernyataannya ini sebenarnya sesuai dengan riset Naomi Schaefer Riley di AS yang menyebut bahwa pernikahan beda agama memiliki risiko perceraian 3 kali lipat lebih tinggi daripada perceraian seagama.

Penghulu ini pun menceritakan kisah seorang anak dari pasangan beda agama. Ayahnya seorang Katolik, sedangkan ibunya Muslimah. Ibunya sering mengerjakan shalat malam (tahajud). Kalau sang ibu tahajud, ayahnya biasanya duduk-duduk di belakang.

“Ya Tuhan, andaikata papa itu seagama dengan ibu, papa akan menjadi imam untuk ibu,” katanya menirukan ucapan kliennya.

Anak yang orang tuanya berbeda agama rentan mengalami kebimbangan iman. Octiva (10 tahun) diharapkan menjadi anak perempuan yang taat beragama. Ibunya seorang muslimah, dan ayahnya adalah seorang WNA beragama Kristen.

Tidak mudah bagi Octiva untuk sekadar shalat saat gurunya datang meskipun sudah beberapa tahun belajar agama secara privat. Kepada gurunya, Octiva sering menolak diajak shalat bersama sebelum mengaji dengan alasan ibunya juga tak shalat dengan tertib.

Orang yang menikah berbeda agama itu sendiri pada satu titik akan mengalami kerinduan untuk taat menjalankan agama dengan orang yang dicintainya. Akan tetapi, ketika berusaha patuh kepada ajaran agama, perasaannya akan goncang karena agamanya melarang pernikahan dengan orang berlainan iman. Pada akhirnya, pasangan ini kerap memilih pada posisi “freelance” dalam memeluk agama. Akan tetapi, pada sisi lain, ada keinginan anaknya taat beragama. Di sini ada kekacauan kehendak, yang dapat saja diteruskan ke anak-anak.

Ada seorang mahasiswa yang ayahnya Protestan dan ibunya Muslim. Sang anak memilih Islam setelah dia dewasa. Bahkan, sang ibu sempat mengajaknya umroh ke Tanah Suci. Namun, di kemudian hari, sang anak berubah keyakinan mengikuti ayahnya. Hal ini sangat mengecewakan ibunya.

Dalam menghadapi kebingungan, keluarga seperti ini terkadang memilih untuk sama-sama menjauh dari agama guna menghindari konflik dan mempertahankan keutuhan keluarga dan pernikahan. Kita memang tidak boleh menafsirkan ajaran agama secara sempit dan ekstrem, akan tetapi beroposisi dengan norma-norma yang dipercaya memiliki risiko yang tinggi.

Apabila dalam pernikahan saja rumit, parenting pasangan beda agama juga tak kalah menantang. Oleh sebab itu, jika pasangan beda agama, Anda perlu memperhatikan pola asuh melebihi pasangan seagama. Akan ada lebih banyak hal-hal yang perlu dijelaskan dan didengarkan.

Anak-anak dari pasangan beda agama bakal mengalami tantangan berikut:

1. Bimbang menentukan agama mana yang harus dianut
2. Karena bimbang, akhirnya anak akan memutuskan menjauh dari agama
3. Pemaksaan mengikuti agama salah satu orang tua, terkadang didahului pemaksaan sekolah.
4. Menjadi penganut agama yang fanatik, sebagai kompensasi keringnya spiritualitas yang bersumber dari ajaran agama.
5. Kegamangan menjalin hubungan dengan keluarga asal orang tuanya. Biasanya, pernikahan beda agama akan mendapatkan pertentangan dari keluarga. Dampak dari pernikahan tak direstui seperti ini akan berlanjut ke anak yang dihasilkan.

Kubu Jokowi: Ujian Nasional harus dipertahankan
Aksi ambil untung buat IHSG rentan terkoreksi
Fadli Zon nilai ujian nasional tak selesaikan persoalan standardisasi pendidikan
KPU nilai debat ketiga lebih kondusif dibanding debat kedua
Golkar nilai debat cawapres tak seimbang, Ma'ruf Amin jauh lebih menguasai
Kubu Prabowo nilai Ujian Nasional pantas dihapus
Allah lebih memihak perempuan?
Politisi Demokrat desak audit lingkungan di Pulau Wawonii dan Kabaena
Bautista kembali menangi balapan kedua WSBK Thailand
Penjelasan Bank Mandiri soal surat tagihan perusahaan Prabowo
Infrastruktur langit Ma'ruf Amin sempat buat penonton debat tertawa spontan
Bamsoet: Kalau tidak ada UN, kualitas pendidikan akan timpang
Hari ini, IHSG diprediksi terkoreksi wajar
Cara mutusin hubungan dengan baik
DPR RI berhasil dorong isu diskriminasi muslim Ulghur di Parlemen OKI
Fetching news ...