Cekaman rasa takut korban kekerasan seksual

REPORTED BY: Dhuha Hadiansyah

Cekaman rasa takut korban kekerasan seksual "Korban kekerasan seksual akan selalu merasa kecut; bahkan, terhadap apa yang akan mereka katakan sendiri. Sehingga, diam adalah pilihan yang dirasa bakal mampu mengubur apa yang disebut mereka sebagai aib (toxic shame)." - Dhuha Hadiansyah

Salah satu hal paling menakutkan di dunia adalah menjadi korban kekerasan seksual, terutama ketika horor tersebut terjadi di masa kanak-kanak dan berulang.

“Saya tidak pernah cerita masalah ini ke siapa pun. Sudah saya anggap ini aib saya, jadi saya merasa tidak perlu,” kata Tristi (22).

Tristi adalah korban kekerasan oleh guru agamanya sendiri. Peristiwa tragis tersebut terjadi sejak SD tingkat akhir hingga SMP. Kekerasan seksual baru berhenti setelah dia tidak lagi belajar dengan guru yang saat itu masih bujangan tersebut.

Bagi korban kekerasan seperti Tristi, ketakutan akan selalu mencekamnya. Hal ini karena seharusnya alat kelamin adalah bagian tubuh yang paling aman. Oleh karena itu, dalam tradisi sejumlah agama, kerap ada apa yang disebut sebagai bagian yang harus dilindungi (aurat). Ketika bagian paling privat ini dijamah secara paksa, rasa aman pun lenyap.

Karena pelanggaran rasa aman tersebut, korban kekerasan seksual akan selalu merasa kecut; bahkan, terhadap apa yang akan mereka katakan sendiri. Sehingga, diam adalah pilihan yang dirasa bakal mampu mengubur apa yang disebut mereka sebagai aib (toxic shame).

Patut diingat bahwa “diam” di sini ini tidak hanya ketidakberanian untuk mengungkapkan apa yang terjadi, tetapi anak korban kekerasan (baik seksual, verbal maupun nonverbal) memiliki kecenderungan untuk menjadi orang yang pendiam dalam kehidupan sehari-hari. Orang ini telah kehilangan daya untuk mengungkapkan apa yang dia rasa akibat perasaannya telah direnggut oleh kekerasan yang bertubi-tubi diterimanya.

Celakanya, bagi korban kekerasan seksual, semakin rapat menutup, semakin luka batin itu mengakar. Luka ini tentu saja akan berpengaruh di sepanjang kehidupannya: pada cara pandang, kehendak, dan perilaku.

Dalam sejumlah kasus, pelecehan seksual membuat korban merasa dirinya kotor dan hina. Oleh karena itu, metafora “sudah basah, mandi sekalian” dijadikan dalil. Mereka kemudian menenggelamkan diri ke bisnis ketubuhan. Bisnis ini dapat kita pandang sebagai objektivikasi terhadap tubuh—dulu tubuhnya dijadikan objek oleh orang lain, dan sekarang raga itu dijadikan objek oleh dirinya sendiri. Jadi, kekerasan seksual secara efektif telah mencabut jiwa dari raga seseorang.

Korban kekerasan seksual sering menutup rapat apa yang terjadi pada dirinya juga karena menimbang bahwa jika dia membeberkan kasusnya, dia akan menjadi korban dari stigma sosial. Calon suami, misalnya, belum tentu mau menerima calon istri yang pernah menjadi korban kekerasan seksual. Pandangan ini tentu saja dilatari oleh konsep “kesucian” yang dipersyaratkan kepada perempuan dengan makna tak “terjamah” dengan cara apa pun.

Seorang perempuan bernama Karina (35) menyandang status janda setelah dia menjadi korban perkosaan gang bang 15 tahun lalu. Suaminya kabur tanpa kejelasan setelah mengetahui bahwa dirinya diperkosa oleh sekitar 7 pemuda bejat.

Seumpama Tristi mengungkapkan apa yang sudah dialaminya, belum tentu calon suami mau menerimanya. Di sini, saya mencermati bahwa perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual menerima beban berlipat.

Siapa yang paling rentan jadi korban?

Korban kekerasan seksual yang berulang mempunyai latar belakang yang tipikal, yakni mereka adalah korban kekerasan dan pengabaian orang tuanya. Hal seperti ini pun dialami Tristi.

“Iya, seperti itu,” katanya saat saya tanya apakah dirinya mengalami pengabaian dan kekerasan dari orang tuanya. Hanya saja, dia menolak untuk mengungkapkan dengan detil bentuk pengabaian dan kekerasannya seperti apa.

Dampak paling jelas dari pengabaian dan kekerasan orang tua adalah hilangnya kepercayaan dan mampatnya komunikasi. Pada kondisi normal, seharusnya anak dapat melaporkan apa pun yang dia alami, apalagi kejadian tidak menyenangkan dari orang lain.

Anak yang mengalami kekerasan dan pengabaian sekaligus akan selalu kesulitan mengungkapkan perasaannya karena dia sedari awal menyangka dirinya bakal dipersalahkan atas apa yang terjadi.

Yang juga tipikal dari kasus kekerasan seksual berulang pada anak adalah adanya hubungan yang dekat antara pelaku dan korban. Tristi adalah salah satu murid kesayangan dari guru agamanya tersebut. Untuk menjawab mengapa Tristi sangat percaya kepada gurunya adalah karena dia membutuhkan sosok orang tua pengganti, yang tidak fungsional. Peran tersebut diisi oleh si guru, yang kemudian mengambil kesempatan.

Anak yang juga rentan mengalami kekerasan seksual adalah mereka yang tidak mendapatkan pendidikan seks yang memadai dari orang tuanya. Orang tua memiliki minimal lima kewajiban kepada anak: memenuhi kebutuhan fisiologis (sandang, pangan, papan), cinta, perhatian (termasuk waktu), keteladanan, dan pendidikan seks. Yang terakhir ini sering diabaikan oleh sebagian orang tua, sehingga dia tidak mengenali perbuatan apa saja yang dapat dikategorikan sebagai kekerasan seksual.

Pada setiap kekerasan yang dilakukan oleh orang dekat, seperti pada kasus Tristi, peristiwa biasanya dimulai dari dosis yang rendah. Anak normal pastinya sudah tahu bahwa menunjukkan foto tak senonoh, colekan, rabaan atau remasan adalah bentuk kekerasan seksual. Akan tetapi, anak yang tuna pendidikan seksual hanya akan merasakan kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya dosis pencabulan meningkat dan dilakukan bertubi-tubi oleh pelaku.

Integritas Jokowi diragukan usai tunduk pada ancaman Ma'ruf amin
Mengintip sekolah fashion muslim pertama di Indonesia
Tanda haji yang diterima Allah
5 bank besar jadi korban sekte penghapus utang
Usai haji, AHY bakal gabung tim pemenangan Prabowo-Sandi
Kubu Jokowi bekali tim kelola media sosial
Bongkar intrik Ma'ruf Amin, Mahfud masih dukung Jokowi?
Lantik Wakapolri Syafruddin, Jokowi amankan suara Polri?
Soal tuntutan rotasi jabatan yang tak transparan, ini jawaban KPK
Orang Indonesia paling nggak bisa <i> nyusu </i>
Ma'ruf Amin perintahkan NU ancam Jokowi hanya tafsiran Mahfud MD
3 kali mogok dalam 12 hari, LRT Palembang 95 persen produk lokal
Legislator minta dalang pembakaran satu keluarga dihukum mati
Kubu Jokowi ingin Ma'ruf temui Rizieq di Mekkah
Ahok bakal terjun kampanye untuk Jokowi?
Fetching news ...